Kamis, 09 Juni 2011

IYA Sayang......


25 tahun yang lalu....
Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil.  Wali kami pun wali hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai.  Tanpa sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa dan salam sejahtera dari kerabat.  Tapi aku masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi.  Umurku sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku.
Cita-cita kami sederhana, ingin hidup bahagia.

22 tahun yang lalu.....
Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan keluargaku.  Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila.  Aku berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi baik hingga dia tampak sempurna.  Kulitnya masih merah, mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak mau menerima kami.  Ya sudahlah.  Aku
tak berhak untuk memaksa dan aku tidak membenci mereka.  Aku hanya yakin, suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah.

19 tahun yang lalu.....
Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja ke kursi lalu dari kursi ke lantai kemudian berteriak "Horeee, Iya bisa  terbang".  Begitulah dia memanggil namanya sendiri, Iya.  Kembang senyumnya selalu merekah seperti mawar di pot halaman rumah.  Dan Kania tak jarang berteriak, "Iya sayaaang," jika sudah terdengar suara  "Prang". Itu artinya, ada yang pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca. Terakhir cermin rias ibunya yang pecah.  Waktu dia melompat dari tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya terpental. Dan dia cuma bilang
"Kenapa semua kaca di rumah ini selalu pecah, Ma?"

18 tahun yang lalu.....
Hari ini Kamila ulang tahun.  Aku sengaja pulang lebih awal dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi ja di pemain bola seperti
yang sering diucapkannya. "Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain bola!" tapi aku tidak suka dia menangis terus minta bola, makanya kubelikan ia sebuah bola.  Paling tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore.  Dan seperti yang sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola itu. "Horee, Iya jadi pemain bola."

17 Tahun yang lalu......
Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan.  Mainnya di rumah aja.  Coba  kalau ia nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya.  Yang aku tahu, hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnyanya dari sekolah.  Kulihat anakku sedang asyik menendang bola  sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku mengalahkan kehati-hatianku dan "Iyaaaa".  Sebuah truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya berhenti di atas dua kakiku.  Waktu aku sadar, dua kakiku sudah diamputasi.  Ya Tuhan, bagaimana ini. Bayang-bayang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku bekerja sementara pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke rumah konsumen.  Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata "Coba kalau kamu tak belikan ia bola!"


15 tahun yang lalu......
Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur.  Kania mulai banyak mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak.  Aku hanya bisa membelainya.  Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat marah.  Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku tak bisa berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari ke luar negeri.  Dia ingin penghasilan
yang lebih besar untuk mencukupi kebutuhan Kamila.  Diizinkan atau tidak diizinkan dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia memang pergi ke Malaysia.

13 tahun yang lalu....
Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi.  Aku harus mempersiapkan uang untuk Kamila masuk SMP.  Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya.  Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa melanjutkan sekolah. aku bekerja serabutan, mengerjakan
pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku.  Aku miris, menghadapi kenyataan.  Menyaksikan anakku yang tumbuh remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya.  Tapi
keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan.  Tapi aku harus kuat.  Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup tegar.

10 tahun yang lalu.....
Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku.  Dan Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar.  Dia sering jadi bulan-bulanan hinaan teman sebayanya.  Anakku cantik, seperti ibunya. "Biar cantik kalo kere ya kelaut aje." Mungkin itu kata-kata yang sering kudengar.  Tapi anakku memang sabar dia tidak marah walau tak urung menangis juga. "Sabar ya, Nak!" hiburku."Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak diganggu!" pintanya padaku.  Dan aku menangis.  Anakku maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam hatiku. Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari
kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah semakin dewasa. Dia selalu
tersenyum padaku.  Dia tidak pernah menunjukkan kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.

7 tahun yang lalu.....
Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, kembali menemui pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya.  Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika aku
masih menyimpan rindu untuknya.  Dan itu pula yang mem buat aku takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke Malaysia.  Sulit baginya mencari pekerjaan di sini yang cuma lulusan SMP.  Haruskah aku melepasnya karena alasan ekonomi.  Dia bilang aku sudah tua, tenagaku habis dan dia ingin agar aku beristirahat.  Dia berjanji akan rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal.  Setelah itu dia akan pulang, menemaniku kembali  dan membuka usaha kecil-kecilan.  Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak kuasa untuk menghalanginya.  Aku hanya berdoa agar Kamilaku baik-baik saja.

4 tahun lalu......
Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang. Hampir tiga tahun dia di sana.  Dia bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk.  Matanya tak pernah siratkan sinar baik.  Dia juga dikenal suka perempuan.  Dan nyonya itu adalah istri mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah ingin
pulang.  Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu.  Lebaran tahun ini dia akan berhenti  bekerja.  Itu yang kubaca dari suratnya.  Aku senang mengetahui itu dan selalu menunggu hingga masa itu tiba.  Kamila bilang, aku jangan pernah lupa salat dan kalau kondisiku  sedang baik usahakan untuk salat tahajjud.  Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah
yang pasti setiap bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat hingga beduk manghrib berbunyi.  Kini anakku lebih pandai menasihati daripada aku.  Dan aku bangga.

3 tahun 6 bulan yang lalu......
Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian pemerintahan Malaysia, kabarnya anakku ditahan.  Dan dia diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku menangis, aku tak percaya.  Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin membunuh.  Lagipula kenapa dia harus membunuh.  Aku meminta bantuan hukum dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari maut.  Hampir setahun aku
gelisah menunggu kasus anakku selesai.  Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis.  Aku hanya bisa memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia memang bersalah.

2 tahun 6 bulan yang lalu.....
Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah.  Dan dia harus menjalani hukuman gantung sebagai balasannya.  Aku tidak bisa apa-apa selain menangis sejadinya.  Andai aku
tak izinkan dia pergi apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola
apakah keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri.  Wahai Allah kuatkan aku.  Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia.  Anakku ingin aku ada di sisinya di saat terakhirnya. Lihatlah, dia kurus sekali.  


Dua matanya sembab dan bengkak. Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya kakiku tak ada.  Aku masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku. "Bapak, Iya Takut!" aku memeluknya lebih erat lagi.  Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya. "Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?"
"Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya tidak mau.  Iya dipukulnya.  Iya takut, Iya dorong dan dia jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati.  Iya tidak salah kan, Pak!" Aku perih mendengar itu.  Aku iba dengan nasib anakku.  Masa mudanya hilang begitu saja.  Tapi aku
bisa apa, istri keempat lelaki tua itu menuntut agar anakku dihukum mati.  Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat.  Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam bulan untuk memohon keringanan hukuman pada wanita itu.

2 tahun yang lalu.....
Hari ini, anakku akan dihukum gantung.  Dan wanita itu akan hadir melihatnya.  Aku  mendengar dari petugas jika dia sudah datang dan ada di belakangku.  Tapi aku tak ingin melihatnya.  Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana.  Petugas itu membuka papan
yang diinjak anakku.  Dan "'blass" Kamilaku kini tergantung.  Aku tak bisa lagi menangis. Setelah yakin sudah mati, jenazah anakku diturunkan mereka, aku mendengar langkah kaki
menuju jenazah anakku.  Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis.  Aku mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air mata aku melihat garis wajah yang kukenal.
"Kania?"
"Mas Har, kau . !"
"Kau ... kau bunuh anakmu sendiri, Kania!"
"Iya? Dia..dia . Iya?" serunya getir menunjuk jenazah anakku.
"Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola jika sudah besar."
"Tidak ... tidaaak ... " Kania berlari ke arah jenazah anakku.
Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit histeris. Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia diturunkan dari tiang
gantungan.  Bunyinya "Terima kasih Mama." Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah tahu wanita itu ibunya.

Setahun lalu.....
Sejak saat itu istriku gila.  Tapi apakah dia masih istriku.  Yang aku tahu, aku belum pernah menceraikannya.  Terakhir kudengar kabarnya dia mati bunuh diri.  Dia ingin dikuburkan di
samping kuburan anakku, Kamila.  Kata pembantu yang mengantarkan jenazahnya padaku, dia sering berteriak, "Iya sayaaang, apalagi yang pecah, Nak." Kamu tahu Kania, kali ini yang
pecah adalah hatiku.  Mungkin orang tua kita memang benar, tak seharusnya kita menikah. Agar tak ada kesengsaraan untuk Kamila anak kita.
Benarkah begitu Iya sayang?


Sumber : TRUE STORY

MANDIKAN AKU BUNDA.....




      Saya ingin bertutur tentang seorang sahabat saya. Sebut saja Rani namanya. Semasa kuliah ia tergolong  berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, baik itu dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya.

      Ketika Universitas mengirim kami untuk mempelajari Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, di  negerinya bunga tulip, beruntung Rani terus melangkah. Sementara saya,  lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran dan berpisah dengan seluk beluk hukum dan perundangan.

      Beruntung pula, Rani mendapat pendamping yang "setara" dengan dirinya, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Alifya, buah cinta mereka lahir ketika Rani baru  saja diangkat sebagai staf  Diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani meraih PhD. Konon nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah "alif" dan huruf terakhir "ya", jadilah nama yang enak didengar : Alifya.

      Tentunya filosofi yang mendasari pemilihan nama ini seindah namanya pula. Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila saja. Frekuensi terbang  dari satu kota ke kota lain dan dari satu negara ke negara lain makin meninggi.

      Saya pernah bertanya , " Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal ?" Dengan sigap Rani menjawab : " Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Everything is ok." n itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan. Alif tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian.

      Kakek neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang ibu-bapaknya. "Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti." Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani bertutur disela-sela dongeng menjelang tidurnya. Tidak salah memang. Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang berhasil dalam bidang akademis dan pekerjaannya.

      Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif minta adik. Waktu itu Ia dan suaminya menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif.  Lagi-lagi bocah kecil ini "DAPAT MEMAHAMI" orang tuanya. Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua orang tuanya pulang larut, ia jarang sekali ngambek.

      Kisah Rani, Alif selalu menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Rani bahkan menyebutnya malaikat kecil. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tua sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam hati kecil saya menginginkan anak seperti Alif.

      Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby-sitternya. "ALIF INGIN BUNDA MANDIKAN." Ujarnya. Karuan saja Rani yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi gusar. Tak urung suaminya turut membujuk agar Alif mau mandi dengan tante Mien, baby-sitternya.

      Persitiwa ini berulang sampai hampir sepekan, "BUNDA, MANDIKAN ALIF" begitu setiap pagi. Rani dan suaminya berpikir, mungkin karena Alif sedang dalam masa peralihan ke masa sekolah jadinya agak minta perhatian.

      Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. "Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency".  Setengah terbang, saya pun ngebut ke UGD. But it was too late. Allah SWT sudah punya rencana lain. Alif, si Malaikat kecil keburu dipanggil pemiliknya.

      Rani, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan  kantor barunya, shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya.

      Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. " INI BUNDA LIF, BUNDA MANDIKAN ALIF " Ucapnya lirih, namun teramat pedih. Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata, " INI SUDAH TAKDIR, IYA KAN ? Aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, dia pergi juga kan ?". Saya diam saja mendengarkan. 

      " INI KONSEKUENSI SEBUAH PILIHAN." lanjutnya lagi, tetap tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma bunga kamboja.
      Tiba-tiba Rani tertunduk. "Aku ibunya ............................!" serunya kemudian, "BANGUNLAH LIF, BUNDA MAU MANDIKAN ALIF. BERI KESEMPATAN BUNDA SEKALI SAJA LIF". Rintihan itu begitu menyayat. Detik berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-ngais tanah merah. Air mata kesedihan menyirami pusara Alif, putra satu-satunya. ( Nasi telah jadi bubur, yang berlalu tak pernah kembali lagi, penyesalan selalu datang terlambat 

Based on True Story....
Mengutip kisah ini...tidak lain adalah untuk menjadi renungan bagi yang telah menjadi atau akan menjadi orang tua, agar hal yang sama tidak terulang, dan untuk mengingatkan kita semua para orang tua...bahwa sesibuk apapun kita...jangan pernah abaikan buah hatimu.....

Rabu, 08 Juni 2011

Cinta dan Memiliki



(Cerita ini bermula setelah Shiori keluar dari rumah sakit dan dalam proses penyembuhan dari upaya percobaan bunuh diri yang dilakukannya)


**** Hari ini… ****


Ku lepas kau pergi….walau kutahu kau takkan kembali….
Karena cinta dan memiliki…tak dapat dipaksakan….


Shiori tampak termenung didalam kamarnya sambil menatap keluar jendela, kala itu hujan setia menitik, menumpahkan tetes demi tetes seperti tumpah ruah dari atas langit, sepertinya turut menyertai kegalauan hati gadis itu, dari wajahnya tampak beban berat yang membebani dirinya.

Wajah itu cantik, namun pucat pias tak ada semangat didalamnya, pandangannya menerawang jauh. Ia tercenung sambil mengingat pertemuan dan pembicaraannya dengan Masumi beberapa hari yang lalu. Penuh kebimbangan dan berkali-kali ia menghembuskan nafas panjang seolah-olah ingin mengeluarkan seluruh beban berat yang begitu terasa penat untuk dipikulnya.

Masumi tunangannya (kalo masih boleh dibilang demikian) disela kesibukkannya masih berusaha menyempatkan diri untuk datang menjenguk dan melihat kondisinya setelah keluar dari rumah sakit, masih penuh perhatian, walaupun disadari Shiori itu mungkin hanya bentuk tanggung jawab Masumi atas kejadian yang hampir merenggut nyawanya.

Tapi sungguh hal itu dilakukannya karena kekalutan dirinya atas penolakan Masumi terhadap dirinya dan keinginan dari tunangannya itu yang akan membatalkan pernikahan mereka, padahal pelaksanaannya tidak akan lama lagi bahkan persiapanpun sudah hampir matang.

Kala itu Shiori tak mampu membayangkan apa yang akan terjadi kalau sampai pernikahan mereka berdua batal terlebih lagi dia tak sanggup harus berpisah dengan Masumi dengan cara seperti ini, maka pada saat itu tidak ada hal lain yang bisa dipikirkannya selain mengakhiri hidupnya.

Tapi sepertinya takdir memang menentukan jalannya sendiri, ia selamat dari kejadian tersebut, entah apa rencana takdir kali ini bagi hidupnya guman Shiori pelan dalam hati.



Hari itu Masumi datang lagi menjenguknya, Namun dengan kedatangan Masumi itu, untuk kesekian kalinya juga Shiori menyadari dan memastikan walaupun Masumi begitu perhatian dan lembut kepada dirinya, Shiori tidak pernah menangkap bias cinta dimatanya, tidak ada nyala cinta itu dalam dirinya.

Mengingat itu semua, tak terasa bulir air mata kembali mengambang dikedua pelupuk matanya, tergugu Shiori berguman “Masumi…..apa yang kurang dengan diriku? mengapa tak sedikitpun aku melihat sinar cinta dimatamu bila kau bersamaku? Apa yang salah dengan diriku?”.

“Padahal akulah kekasihmu…akulah tunanganmu, cintaku demikian besar kepadamu, dan aku sungguh takut kehilanganmu sehingga aku sanggup melakukan tindakan bodoh seperti ini” Shiori berkata lirih sambil menangis sedih.

Teringat kembali ia dengan percakapannya waktu itu dengan Masumi, kata-kata yang sama terucap dibibirnya kala itu.



*** Hari itu…. ***


Masumi mengenggam tangannya perlahan sambil berusaha menenangkannya. “Sudahlah Shiori…hal ini tak usah dibahas dulu…tunggulah sampai kondisimu sudah benar-benar pulih, baru nanti kita bicarakan lagi”.ujar Masumi bijak berusaha membujuk Shiori.

Masumi sadar tak mungkin dengan kondisi Shiori yang sedang labil begini untuk membicarakan hal ini.

Tapi Shiori dengan gerakan yang halus melepaskan genggaman tangan Masumi dan dengan sedikit tergesa ia menghapus air mata yang mulai menetes satu persatu dikedua matanya. Tampak sekali ia ingin kelihatan tegar dan baik-baik saja didepan Masumi tunangannya yang mungkin saja sebentar lagi mungkin tidak akan menjadi kekasihnya lagi atau lebih tepat tunangannya lagi.

“Maya….”Shiori berujar pelan sambil mengingat sosok mungil yang polos itu,  mengapa Masumi bisa sangat memperhatikan anak itu dan begitu memujanya. Kali ini aku harus tahu kebenarannya, walaupun itu pahit bagiku, pikir gadis itu.

Dengan menghembuskan nafasnya perlahan Shiori memberanikan diri untuk bertanya “Masumi…kali ini katakan yang sejujurnya tentang perasaanmu, aku harus tahu kebenaran ini walaupun akan terasa pahit bagiku.

Masumi yang sedari tadi menatap Shiori mulai mengerti kemana arah pembicaraan Shiori dan terus menatap lekat pada Shiori.

“Masumi….apakah kau mencintai gadis itu? dan mengapa kau bisa jatuh cinta padanya?” dengan terbata-bata Shiori melanjutkan kata-kata yang sebenarnya perlu keberanian dan kekuatan sehingga dia mampu mengeluarkannya.

“Aku minta penjelasanmu Masumi….kali ini jangan ada lagi yang kau sembunyikan dariku” lirih sekali ucapan Shiori namun cukup jelas untuk didengar Masumi dan menuntut penjelasan darinya.

Lama Masumi terdiam, sambil menimbang-nimbang apakah sudah saatnya dia jujur kepada Shiori, namun dari tatapan mata Shiori, Masumi tahu bahwa dia memang harus menjelaskan segalanya.

Ya….mungkin memang inilah saat yang tepat untuk menjelaskan semua perasaanku terhadap Maya, walau bagaimanapun aku harus menyelesaikan masalah ini cepat atau lambat demi kebaikan semua pihak, demi Shiori…demi Maya….dan juga demi diriku sendiri.


Sudah banyak yang tersakiti dan Shiori juga telah menjadi korban akibat ketidak tegasanku. Gumam Masumi dalam hati.

Memang perlu waktu beberapa saat bagi Masumi untuk menjawab pertanyaan Shiori, bukan karena ia ragu akan perasaannya, tapi Masumi sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyampaikannya.

Sambil menghela nafas panjang  masumi berujar. “ Hm…..Cinta….aku tidak terlalu mengerti definisi cinta Shiori…aku telah kehilangan maknanya lama sekali…hidupku terlalu sepi dan sunyi”

Shiori menatap Masumi yang berujar dengan mata yang menatap jauh.

Entah mengapa kali ini Shiori kembali menemukan  mata itu…mata yang tampak sedih dan sendiri, Masumi mungkin inilah sosok dirimu yang sebenarnya yang tidak kuketahui, pikir Shiori.

“lalu….sejak bertemu dengannya…ada yang berubah dalam diriku, perlahan-lahan namun kusadari itu, mulanya aku hanya kagum terhadap dirinya yang begitu tampak bersinar diatas panggung dan sangat mencintai dunianya, dia juga memiliki tekad dan semangat yang kuat, dan sungguh sangat memukau hingga akhirnya tanpa sadar aku terus memandang dan memperhatikannya…dan tak bisa lepas lagi Shiori….”ujar Masumi sambil mengedarkan pandangannya kearah Shiori. Pada saat mengucapkan kata-kata itu pandangan Masumi tampak berbeda dimata Shiori.

Baru kali ini kulihat pancaran mata Masumi yang begitu berbeda waktu menceritakan Maya, mata yang begitu teduh dan penuh cinta. Sayang….aku tak pernah menemukan tatapan seperti saat dia bersamaku…bisik hati Shiori sedih.

“lanjutkanlah Masumi…” pinta Shiori.

“Jika bersamanya….aku merasa menjadi diriku sendiri, tidak perlu kepura-puraan, semua bagai mengalir begitu saja, bersamanya…waktu bergulir tanpa terasa, ada banyak nuansa dan warna begitu didekatnya walau kutahu secara usia, status, dan banyak hal lain…aku dan dia begitu berbeda”.

“Jika kau menganggap ini adalah definisi cinta…mungkin begitulah adanya” lanjut Masumi.

Deg….hati Shiori bagai tertusuk duri…pedih sekali, begitu mendengarkan kata-kata Masumi, namun sekali lagi dikuatkan dirinya dan hatinya agar tetap tegar dan kuat walaupun air mata mulai membayang dikedua pelupuk matanya.

Masumi kembali melihat kearah Shiori untuk memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja setelah mendengarkan penjelasan darinya, walau bagaimanapun akan terasa pedih bagi gadis itu untuk mendengar pengakuan darinya. Sempat terlintas dibenaknya untuk menghentikan pembicaraan ini.


Tapi seolah mengerti Shiori kembali berujar “Tak mengapa Masumi…teruskanlah, aku ingin mendengar alasanmu mencintai gadis itu, tenanglah…aku akan baik-baik saja”

 “Mencintai seseorang…itu tidak perlu alasan Shiori” jawab Masumi tenang dan kembali melanjutkan kata-katanya.

“Itu semua terjadi begitu saja..tanpa aku sadari, tanpa mampu aku tolak, tanpa sanggup aku cegah”.

“Jika kau bertanya mengapa aku menyukai Maya? atau lebih tepatnya mengapa aku bisa mencintainya? Aku pun tak tahu mengapa? dan tak punya jawaban yang pasti”.


“Tapi yang pasti…setiap memandangnya…aku seperti terpasung tak bisa melepaskan pandanganku darinya walaupun sedetik saja…saat berada didekatnya…kurasakan dunia berhenti berputar dan jantungku berdetak dengan tidak normal…bila melihatnya tersenyum dan matanya yang berbinar..rasanya ingin kuhadiahi dirinya dengan segala keindahan dunia agar dia tetap begitu…tapi bila melihatnya bersedih…melihat dia menangis…aku rasanya tak akan sanggup…dunia serasa akan runtuh…sebisa mungkin aku ingin terus melindunginya, dengan memandangnya saja telah menimbulkan banyak perasaan indah dalam hatiku, sebelumnya aku tidak pernah seperti ini Shiori”. ucap Masumi dalam dan penuh makna.



*** Hari ini…. ***

Dari penjelasan Masumi hari itu, Shiori tahu bahwa sesungguhnya memang tak ada tempat dihati Masumi untuk dirinya, jika dia memaksa untuk tetap masuk maka luka dan luka yang akan tetap didapatinya.

Hari itu…setelah Masumi menjelaskan kepadanya sagalanya…ya…segalanya tentang perasaannya, Masumi mohon diri untuk pergi dan berjanji kembali datang menjenguknya. Masih terekam jelas diingatannya saat Masumi membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah pergi.

Sesungguhnya ia tahu, Masumi tak berniat menyakiti dirinya dengan penjelasannya, ia tahu itu. Tapi sungguhpun demikian hatinya tetap teramat sakit.

“Aku takkan bisa mengenggam hatimu Masumi” lirih ucapan Shiori  berusaha menahan penat dihatinya sambil mengingat pembicaraan beberapa hari yang lalu bersama Masumi.

Tak terasa airmata menetes dikedua matanya. Shiori menangisi dirinya dan nasib cintanya.

Akh….Cinta ….mengapa sungguh menyakitkan seperti ini. Shiori menangis pedih tanpa suara, isakan tangisnya tertahan sambil memegang dadanya, mencoba meraba hatinya. “Hatiku sesak dan sakit karena cinta, jika patah hati sesakit ini…rasanya aku tidak akan mencinta lagi…”.ujarnya pedih

Jika kekuasaan sang waktu ada ditanganku, maka aku akan menghentikannya agar aku bisa mencegah kepergianmu dari sisiku, ujar Shiori.

Tapi apalah artinya mencintaimu….kalau aku hanya bisa memiliki dirimu tapi tidak dengan hatimu….

Sesungguhnya….sudah sejak lama aku menyadari aku takkan pernah bisa, aku takkan pernah sanggup untuk mengenggam hatimu dan cintamu…Sungguh aku telah kalah darinya, dari gadis itu, sudah sejak lama sekali, bahkan sejak dari awal kebersamaan kita.


Betapa cinta yang sungguh luar biasa dari dirimu Masumi, laki-laki yang sangat luar biasa, terhadap gadis yang kuanggap biasa saja….

Lama dia tercenung dalam diam…airmata pun telah mulai kering.

Akhirnya….memang inilah keputusan yang harus kutempuh, mudah-mudahan ini yang terbaik bagi semuanya, walaupun keputusanku ini akan ditentang oleh keluarga besarku bahkan juga oleh ayah Masumi sendiri, tapi tak mengapa….lebih baik diputuskan sekarang saja pertunangan ini demi kebaikan semuanya, walaupun karenanya aku akan menderita tapi biarlah…waktu akan menyembuhkan luka ini…waktu akan membuat aku lupa kisah sedih ini….


Biarlah kali ini begini….
Biarlah kulepas kau pergi….
Setidaknya ada hal baik yang kau ingat tentang diriku….
Walaupun tidak ada celah sedikitpun untukku dihatimu…
Dengan jika kau mengingat ketulusanku untuk melepaskanmu saja…
Itu sudah cukup buatku….aku tak sanggup dibenci olehmu…
Kini terbanglah tinggi kekasihku…terbanglah lebih tinggi….
Kuharap sang waktu jualah yang akan dapat menyembuhkan luka ini…
Walaupun perlu waktu lama….Tapi tak mengapa….caraku ini lebih baik….
Ah….ternyata cinta dan memiliki memang tak dapat dipaksakan (batin Shiori)


Ya…hari itu, Shiori sudah membuladkan tekadnya untuk mengambil keputusan untuk memutuskan pertunangannya dengan Masumi, untuk melepaskan laki-laki itu. Walau Ia juga tidak bisa memastikan apakah setelah itu Masumi akan mengakui perasaannya kepada Maya dan membuka identitasnya sebagai Mawar Ungu dan apakah Maya mempunyai perasaan yang sama terhadap Masumi…ia tidak dapat memastikannya.

Tapi satu yang bisa mulai dipahaminya bahwa cinta akan menemukan jalannya…untuk bertemu…

Jika memang Masumi dan Maya adalah Belahan Jiwa yang terpisah…mereka akan bersama pada akhirnya.

Saat itu…. tetes-tetes hujan telah berhenti, awan mendung mulai menghilang dan telah berganti dengan sinar matahari yang mulai muncul malu-malu, tampak kilauan pelangi pada bentangan cakrawala.

Shiori berharap…mendung kelabu dihatinya…suatu saat nanti akan pergi dan berganti kemilau pelangi.


Aku akan bersabar…menunggu waktu itu tiba…..
Sampai datang seseorang yang akan menawarkan  cintanya yang luar biasa…
Yang ditujukan hanya untukku….seperti dan sebesar cintamu kepadanya…
Aku akan membuka hatiku lebar-lebar…untuk menyambut cinta baru untukku….


*** Bahwa…cinta apabila dia telah memilihmu…akan menentukan jalan hidupmu……***