One day in your life ....
you'll remember a place
Someone's touching your face
You'll come back and you'll look around you
One day in your life....
You'll remember the love you found here
You'll remember me somehow
Though you don't need me now
I will stay in your heart
And when things fall apart
You'll remember one day...
One day in your life ....
When you find that you're always waiting
For the love we used to share
Just call my name
And I'll be there
You'll remember me somehow
Though you don't need me now
I will stay in your heart
And when things fall apart
You'll remember one day...
One day in your life ....
When you find that you're always longing
for the love we used to share
Just call my name
And I'll be there
you'll remember a place
Someone's touching your face
You'll come back and you'll look around you
One day in your life....
You'll remember the love you found here
You'll remember me somehow
Though you don't need me now
I will stay in your heart
And when things fall apart
You'll remember one day...
One day in your life ....
When you find that you're always waiting
For the love we used to share
Just call my name
And I'll be there
You'll remember me somehow
Though you don't need me now
I will stay in your heart
And when things fall apart
You'll remember one day...
One day in your life ....
When you find that you're always longing
for the love we used to share
Just call my name
And I'll be there
Sayup-sayup alunan lagu lawas yang dilantunkan almarhum jacko terdengar sangat menyentuh dan begitu menggugah rasa ditengah derasnya hujan yang turun di bulan Januari di Kota Pontianak. Diluar hujan masih setia menitik, seperti menciptakan beribu rasa didalam hati. Kaca-kaca jendela menjadi buram dan berembun terkena terpaan hujan yang cukup deras, sejenak aku merasa entah ada dimana. Tubuhku memang masih ditempatnya, masih didepan layar komputer dimeja kerjaku tapi pikiranku entah ada dimana, mengembara begitu jauhnya.
Hujan masih setia menitik....
Sesekali disertai kilatan dan suara guntur yang cukup menggelegar, tapi apapun itu tetap tidak menghilangkan kecintaanku pada suasana dikala hujan.
Bagiku hujan teramat sangat istimewa, ada banyak nuansa didalamnya, ingatanku terasa berlomba-lomba untuk bermunculan dipermukaan, berseliweran, berlompatan seperti tayangan film yang berjudul “Masa Lalu”.
Ingatanku bergerak mundur-maju demikian terus-menerus seperti melewati dimensi waktu, melewati lorong waktu dan bermuara pada suatu waktu, dimasa atau dikala aku masih berseragam “Putih-Biru”, belasan tahun yang lalu, bahkan lebih.
Memang ada yang melatari itu semua.....
Tali penghubung yang telah lama putus entah kenapa benangnya kini telah tersambung kembali. Ya ...berjumpa atau menjalin komunikasi kembali dengan orang-orang yang pernah dekat dimasa lalu merupakan hal yang menakjubkan, terutama buatku, tentu saja tanpa mengurangi arti yang begitu berharga pada kehidupanku saat ini.
Menggali ingatan di masa lalu tentang episode-episode atau fase-fase kehidupan, jejak-jejak langkah kehidupan kita dimasa lalu, mengurainya kembali satu persatu. Ada hal yang indah, menyenangkan, bahkan menyedihkan yang tentunya tidak akan terlupakan begitu saja karena itu adalah bagian dari sejarah kehidupan kita.
Mungkin sejenak bisa saja kita melupakannya, ingatan atau kenangan tersebut seperti tertidur cukup lama atau bahkan mati suri, namun ada kalanya dia akan terbangun atau terjaga kembali. Ketika melewati tempat tertentu atau mengalami suasana dan kondisi tertentu, kita seperti tersentak, tanpa sadar bergumam dalam hati “Ini sepertinya pernah terjadi atau pernah kurasakan....” dan sebagainya.
Banyak episode atau fase yang telah kita lewati dan bagian yang paling menarik tentu saja “Kisah Cinta”.
Pernah beberapa kali merasakan jatuh cinta (masih bisa dihitung dengan jari), sedih, bahagia, dan lain sebagainya.
Cinta dimasa remaja dan cinta dikala dewasa, apapun itu....baik manis dan getirnya kisah dimasa lalu, semuanya mengantarkan kita menuju kedewasaan dan kematangan dalam bersikap dan memaknai cinta yang sesungguhnya.
Hm.....kulihat hujan masih menitik....tanah-tanah basah dan mengeluarkan wewangian khas pada saat hujan....aku suka itu semua.......
Sama seperti hari ini, dulu dikala hujan, aku juga sering termangu, merasakan berbagai macam rasa bercampur menjadi satu, diantaranya ada perasaan sepi, sendiri, gelisah, dan banyak rasa yang lain.
Sebenarnya, benarkah pada saat itu definisinya adalah ”Cinta” atau “Suka”, rasanya tidak terlalu penting, tapi menurut kebanyakan orang itulah “Cinta Pertama” atau “Cinta Monyet” dikala puber, merasakan tertarik pada lawan jenis untuk pertama kalinya, merasakan deg-degan jika bertemu, wajah terasa panas, telapak tangan terasa dingin, malu-malu kucing, dan banyak tingkah ajaib lainnya, khas ABG pada saat itu.
Ah....jika ingat itu semua, memang terasa lucu dan betapa konyol dan lugunya diriku pada saat itu. Gadis yang baru beranjak remaja memasuki usia 13-14 tahun, memakai seragam putih-biru dan atribut lainnya khas anak SMP, bersepeda ria ketika berangkat ke sekolah, masih anak ingusan tapi punya kisah manis bersama abang kelasnya.
Hm....aku mencoba kembali kemasa itu, jauh diawal era 90-an (berkisar 1992-1993), mengingat awal dari itu semua.
Kelas 1 SMP di semester 2, masuk disiang hari, tak sengaja aku meninggalkan buku catatan salah satu mata pelajaran dilaci meja sekolah, padahal sedianya dimalam hari buku catatan itu mau kubuka lagi untuk persiapan besok, perasaan cemas melanda, mudah-mudahan kakak/abang kelas (pada waktu itu belum tahu siapa yang duduk dibangku yang sama dikelas pagi) tidak memindahkan buku catatan tersebut.
Besok siangnya, ketika aku datang dengan segera kuperiksa laci meja, Alhamdulillah bukunya masih ada dan kuperiksa isinya, ternyata ada coretan-coretan alias tulisan tangan pada buku itu, yang saat itu baru aku tahu ternyata yang duduk dibangku yang sama denganku di kelas pagi adalah cowok dan berinisiatif untuk mengajakku berkenalan, entah kenapa setelah itu kami jadi sering saling meninggalkan buku untuk saling ditulis dan dicoret-coret sebagai media untuk kami saling berkenalan dan bertukar pesan.
Dan dari media buku catatan kami lalu beralih ketingkat yang lebih akrab yaitu “Surat”. Saling meninggalkan surat berantai di laci meja. Aku ingat, aku jadi sering datang awal ke sekolah dengan hati deg-degan memeriksa laci ada atau tidak balasan surat hari ini dan tentu saja secara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan sama teman-teman yang lain, bahkan diam-diam disaat jam pelajaran aku kerap membaca surat tersebut dan tentu saja menulis balasan surat berantai itu.
Setahuku, tidak hanya kami yang saling bertulis surat, tetapi teman sebangkuku dan teman sebangkunya juga, tapi mereka tidak berlangsung lama, tidak seperti aku dengan si “abang kelas” itu.
Kemudian setelah beberapa waktu intens bertulis surat, si “abang kelas” ini mengajak untuk bertemu alias berkenalan secara langsung. Deg....aku takut setengah mati, kucari cara agar dia tidak mengetahui jati diriku yang sebenarnya, salah satunya dengan cara berganti “identitas” dengan teman sebangkuku, selain itu untuk melancarkan aksi tersebut, aku harus tahu duluan wajah si “abang kelas” dan tentu saja anggota geng serta agen rahasianya dan mengumpulkan informasi tentang mereka, biar aku bisa menghindar sesegera mungkin jika kami ternyata berpapasan dijalan.
Hm...aku memang cukup cerdas (penuh akal bulus) dengan segera kucari denah tempat duduk anak kelas IIC untuk mengetahui wajah si “abang kelas” (ingat jaman SMP dulu pasti absen kelas disertai dengan denah tempat duduk yang ditempel foto), dan denah ini biasanya tersimpan dilaci meja Bapak dan Ibu guru.
Hei....ini dia wajah si “abang kelas” itu. Hm ....imut juga ternyata. Aha....akhirnya aku tahu wajahnya. Tapi gimana kalo seandainya si “abang kelas” ini berpikiran sama sepertiku, mengecek wajahku melalui denah tempat duduk kelas IC, wah gawat nih pikirku, dengan segera (akal licik beraksi) aku lalu melepas fotoku yang tertempel dengan manis didenah tempat duduk (untung saja waktu itu Ibu Wali Kelas IC, Ibu Guru Bahasa Inggris) tidak terlalu sering memeriksa foto didenah yang telah copot dengan sukses (ha...ha...ha...).
Walhasil si “abang kelas” itu tidak bisa mengetahui identitasku dan sepertinya dia tahu akal bulusku diwaktu itu.
Tapi itu semua tidak bisa meredam keinginan si “abang kelas” untuk bisa melihat aku secara langsung, dia penasaran sekali dengan keberadaanku, sehingga dia menganggap aku cewek yang misterius. Sungguh waktu itu bukan maksudku untuk menjadi misterius, tapi aku memang masuk pada kategori pemalu dan penakut jika berhadapan dengan lawan jenis.
Sampai beberapa waktu kemudian, rasa penasaran si “abang kelas” itu sudah tak tertahankan, namun untungnya dewi fortuna masih berada dipihakku. Suatu siang yang panas, aku memarkirkan sepedaku ditempat parkir sekolah. Hei....tapi sepeda siapa itu masih nangkring ditempat parkir, bukankah itu sepeda si “abang kelas”, kenapa masih ada? Bukannya jam pulang anak pagi telah lama usai, wah firasat buruk nih pikirku. Dengan mengendap-endap aku mengintip dari lorong sekolah, ya Tuhan....ternyata dia ada didepan kelasku, masih menunggu sambil berbincang-bincang dengan temanku yang waktu itu dapat jatah piket.
Aduh...bagaimana ini? Dengan langkah kaki seribu aku lari menuju rumah teman sekolah yang kebetulan tinggal dikompleks samping sekolah. Bersembunyi disana sampai 5 menit sebelum bel masuk berdentang baru aku masuk kekelas dan tentunya memastikan terlebih dahulu bahwa sepeda sekaligus si empunya sudah pergi....hm lega deh rasanya (padahal kejutan lainnya akan menyusul dengan segera).
Si “abang kelas” itu sepertinya tahu aku lari terbirit-birit dan bersembunyi waktu melihat dia, karena menurut penuturan temanku yang sedang piket waktu itu, dia melihat kelebatan cewek lari tunggang langgang bagai dikejar anjing entah kemana, tetapi sepedanya ada ditempat parkir. Dan masih menurut penuturan temanku itu si “abang kelas” menginterogasi dia dengan menanyakan ini dan itu mengenaiku. Seperti kenal dekat nggak sama aku, gimana ciri-cirinya, terus biasa datang ke sekolah jam berapa? dan lain sebagainya. Dan katanya lagi si abang sepertinya tahu persekongkolan kami. ya...waktu itu teman –teman gengku memang sudah berjanji untuk melindungi jati diriku. (tsaah...).
Tanpa sadar .....aku jadi tersenyum-senyum sendiri ingat kejadian-kejadian lucu waktu itu, tak terasa ternyata itu semua sudah lama sekali berlalu, tapi aku masih mampu mengingatnya dengan cukup baik.
Kadang....jika aku melewati jalanan depan sekolahku, kenangan-kenangan itu memintas dengan sendirinya, suasana dikanan-kiri sekolah yang masih seteduh dulu, pohon-pohon masih menaungi dengan setia, kemudian pos penjaga didekat pintu gerbang sekolah tempat dimana teman-teman biasa ngumpul disaat istirahat, disaat pulang sekolah menunggu jemputan, bahkan untuk arena ngecengin abang kelas atau abang-abang SMA sebelah dizaman itu, juga sebagai ajang untuk lirik-lirikan dengan incaran masing-masing.
Aih....manis dan indahnya masa itu.....
Juga tangga didepan pintu masuk ruang atau kantor Kepala Sekolah yang juga sering kita duduki rame-rame sambil bercerita banyak hal.
Seingatku....pada pertengahan tahun 2002, aku dan seorang sahabat pernah bertandang ke SMPku untuk suatu hal, setelah sekian lama, akhirnya berkesempatan mengunjungi kembali sekolahku, tempat yang menyimpan banyak kenangan dimasa remajaku.
Aku seperti dipaksa untuk mengingat kembali banyak hal.....
Menyusuri jalan di koridor sekolah, berhenti didepan kelasku dulu, kemudian berdiri didepan pagar pembatasnya, sambil mengedarkan pandanganku ke semua penjuru dan sudut sekolah sampai berhenti pada suatu titik yaitu, ruang kelas “si abang kelas” ketika dia dikelas III, kemudian aku berlanjut ke kelasku, menatap dan melihat sekitar, semuanya masih terekam jelas dalam ingatan, sambil memejamkan mata sesaat coba membayangkan banyak hal dan mengurai kenangan pada masa itu.
Memang sebagian ada yang berubah pada bangunan sekolah, misalnya tempat parkir sepeda dan kantin sekolah, namun ada juga yang tidak.
Mataku lantas tertuju pada bangku itu, jalur dua baris kedua (jika ingatanku tdk salah), mencoba duduk sebentar, membayangkan ketika aku masih jadi siswa SMP, meraba laci meja, mencari-cari kalau saja ada yang meninggalkan barangnya, hei...tentu saja ini bukan laci meja dimasaku (ha...ha..), setahuku dulu laci mejaku ada coretan “type-ex” yang bertuliskan namaku dan namanya, kita tuliskan disudut laci meja agar tidak terbaca oleh teman lain.
Hm....sungguh kenangan yang manis......
Sesaat aku teringat penggalan lirik lagu milik Kla Project.....
Telah lama kabar menghampa.....namun kisah kita takkan mudah terlupa...
Meski tlah jauh kemana....kau coba tuk sembunyi....
Suatu saat nanti...akan kembali jua....
Memang pada masa-masa itu lagu-lagu Kla Project sangat digemari oleh para remaja, salah satunya lagu “Yogyakarta”
Pulang kekotamu....ada setangkup haru dalam rindu...
Masih seperti dulu...tiap sudut menyapaku bersahaja...
Penuh selaksa makna......
Terhanyut aku akan nostalgia...saat kita sering luangkan waktu...
Nikmati bersama suasana...
Kemudian aku kembali menyusuri koridor sekolah lantas melintasi halaman sekolah yang biasa digunakan untuk kegiatan pramuka, olah raga dan tentu saja upacara bendera setiap Senin pagi.
Sesekali kupandangi lagi semua sudut sekolah, beberapa bangunan memang sudah berubah letak dan fungsinya, berjalan mendekat ke arah ruang guru, menyapa Bapak dan Ibu Guru yang bahkan diantara mereka masih mengingat kami sebagai muridnya, sungguh nostalgia yang sangat mengesankan.
###
aku jadi inget masa lalu, manis banget sist ceritanya
BalasHapusmakasih banyak wod atas apresiasinya, iya.......... kalo menyangkut cerita tentang masa remaja rasanya campur aduk, ada yg sweet, lucu, jadul, agak norak, tapi kalo diingat sgt sweet sekali...he...he...mudah2an bisa diupdate dlm waktu dekat
BalasHapus